Plastik. Bagi kita yang sering berbelanja di pasar retail maupun pasar tradisional, plastik menjadi bahan yang mustahil untuk dihindari. Plastik sering digunakan sebagai pembungkus barang bahkan bahan pembuatan alat rumah tangga dan mainan anak karena sifatnya yang murah dan mudah diproduksi secara masal. Namun, dibalik sulap teknologi modern yang diciptakannya, plastik dapat menjadi bom waktu yang siap meledak di masa depan bumi, termasuk kita, manusia yang menjadi bagian di dalamnya.
Plastik: Ancaman Bom Waktu bagi Ekosistem
Ancaman ekosistem dari plastik terkandung dari bahan di dalam plastik. Plastik merupakan produk petroleum, maka itu, plastik membawa implikasi besar pada konsumsi bahan bakar fosil yang bermuara pada pemanasan global karena pembakaran emisi dan kanbondioksida yang dihasilkannya [1]. Terlebih, 5, 4 juta ton sampah plastik dihasilkan di Indonesia setiap tahun [2]. Jumlah yang fantastis tersebut dapat mematikan ekosistem tanah dan laut. Pasalnya, terurainya plastik di dalam tanah membutuhkan waktu ratusan tahun, jika terurai, plastik akan melepaskan bahan beracun berupa logam dan chlor yang dapat menyatu dengan air tanah. Selain itu, limbah plastik yang terbuang dalam air laut dapat mematikan terumbu karang, plankton dan ikan kecil yang terpapar olehnya, akibatnya, populasi mereka berkurang begitu pula predatornya, kura-kura dan binatang lain yang lebih besar seperti hiu.
Apa yang Dapat Kita Lakukan?
Dalam pencegahan ancaman sampah plastik, beberapa pihak yang berperan antara lain pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti World Wildlife Fund (WWF) dan kita sebagai individu dalam masyarakat. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Sebelum limbah plastik mencadi bom waktu di masa depan, kita dapat melakukan beberapa hal untuk mencegah dan memperbaiki ekosistem di sekitar kita dengan melakukan empat langkah sederhana berikut:
- Menghindari penggunaan sedotan plastik, kantung makanan plastik, dan bahan plastik lainnya. Sebagai gantinya, kita dapat melakukan:
- Menyediakan tas belanja yang awet dan dapat dipergunakan berkali-kali sebagai pengganti plastik pembungkus barang belanjaan.
- Membawa botol minuman dan tempat makan sendiri untuk menghindari penggunaan botol air mineral maupun plastik pembungkus makanan.
- Mengkampanyekan melalui media sosial seperti facebook, twitter dan blog untuk mengajak melakukan diet kantong plastik.
Oxo Bio-degradable: Plastik yang (Tidak) Ramah Lingkungan
Akhir-akhir ini banyak pertokoan yang menggunakan plastik oxo bio-degradable yang konon akan terurai dengan tanah dalam waktu dua tahun. Apakah benar plastik tersebut ramah lingkungan? Sebuah riset menunjukan, bahwa bahan kimia aditif yang terkandung dalam plastik tersebut menyebabkan plastik tersebut tidak dapat didaur ulang, dan justru pecahan uraiannya akan tersebar di dalam tanah dan udara menjadi partikel kecil yang berbahaya bagi makhluk hidup sekitarnya. Disamping itu, tidak semua plastik berlabel ramah lingkungan langsung terurai dalam dua tahun. Jika tidak ada sinar matahari yang memadai, maka proses penguraian plastik memakan waktu lebih lama [3]. Maka, pilihan untuk menghindari penggunaan plastik dan menggunakan tas belanja pakai ulang, sebaiknya menjadi pilihan utama.
Harapan pada pemerintah
Pemerintah Kota Bandung berencana memberikan insentif kepada pengusaha yang menggunakan plastik jenis tersebut. Apakah tindakan tersebut tepat? Alih-alih memperbaiki lingkungan, rencana tersebut justru hanya menukarkan kepentingan produsen dan distributor plastik oxo biodegradable. Disaat beberapa negara di Uni Eropa melarang dan memberikan denda terhadap penggunaan kantong plastik berlabel apapun, sangat disayangkan, pemerintah justru berencana memberikan insentif terhadap penggunaannya. Sebenarnya ada hal-hal yang dapat diterapkan dan diadopsi di Indonesia dari beberapa kebijakan lingkungan di Uni Eropa, antara lain;
1. Sosialisasi dampak penggunaan plastik dan cara mengurangi konsumsi plastik ke masyarakat.
Penanaman kesadaran masyarakat tentang pola konsumsi sampah adalah hal yang paling vital untuk dilakukan. Saya teringat pengalaman saya beberapa bulan yang lalu transit di Bandara Abu Dhabi yang kebetulan pada jam tersebut banyak saudara Warga Negara Indonesia (WNI) yang juga sedang transit dari umroh dari Arab Saudi. Tong sampah berdasarkan jenis telah disediakan di setiap baris kursi di ruang tunggu. Namun, yang saya lihat justru mereka membuang sampah seenaknya, dari plastik bungkus makanan hingga gelas kopi. Akibatnya, ruang tunggu pun penuh sampah. Kebiasaan tersebut tercermin pada permasalahan sampah di Kota Bandung beberapa tahun lalu hingga Bandung dijuluki Kota Sampah. Bahkan, blogger asal Bulgaria menjuluki Bandung sebagai City of Pigs. Maka, sosialisasi perlu dilakukan untuk menanamkan nilai bahwa sampah adalah tanggung jawab kita sendiri. Sosialisasi bisa juga dilakukan dengan memberikan insentif bagi masyarakat atau kampung tertentu yang telah melakukan inisiasi dan inovasi program pengolahan sampah plastik.
2. Memberikan pajak bagi penggunaan plastik di pusat retail.
Pajak atas sampah plastik dapat dibebankan kepada konsumen pertokoan dengan menginformasikan bahwa setiap plastik akan dikenakan denda beberapa ribu rupiah. Uang pajak tersebut dapat digunakan sebagai insentif kepada masyarakat atas inisiasi program pengolahan sampah plastik.
Terlepas dari peran pemerintah, sampah tentu menjadi tanggung jawab kita semua sebagai manusia yang ikut memproduksi sampah dari kegiatan kita sehari-hari. Maka itu, empat langkah kecil sederhana dari masing-masing kita diharapkan dapat menghentikan detik bom waktu ancaman sampah plastik. Semoga.
Referensi :
[1] Clapp, Jennifer and Swanston, Linda (2009). Doing away with plastic shopping bags: international patterns of norm emergence and policy implementation. Dipublikasikan dalam Environmental Politics. London: Routledge. Hlm. 315-332.
[2] http://www.antaranews.com/berita/417287/produksi-sampah-plastik-indonesia-54-juta-ton-per-tahun. Diakses tanggal 31 Maret 2014.
[3] Depatment of Environmental, Food and Rural Affairs, Loughborough University (2010). EV0422 : Assesing the Environmental Impacts of Oxo-degradable Plastics Across Their Life Cycle. London: Depatment of Environmental, Food and Rural Affairs, Loughborough University, Nobel House. Hlm. 1-4
