Sepuluh tahun silam, tsunami memporak-porandakan sebagian besar bangunan dan ekosistem di pesisir barat Aceh. Namun, serambi mekah kini kian berbenah. Tak hanya perencanaan kotanya, tapi infrastruktur transportasi dan wisata laut juga dibenahi. Saya yang hobi snorkeling dan berenang pun sangat tertarik untuk menyalurkan hobi saya di pesisir barat laut nusantara ini, pulau weh dan sekitarnya. Tanpa rencana perjalanan, saya langsung angkat ransel.
Perjalanan saya dimulai dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Panas terik langsung terasa begitu saya menghirup udara di kota ini. Kata seorang kawan yang pernah ke Pulau Weh, kita perlu menyewa taksi sampai Kota Banda Aceh dari Bandara, kemudian dari pelabuhan di Kota Banda Aceh, kita dapat menyeberang ke Pulau Weh. Benar saja, saya pun menempuh perjalanan ke Kota Banda Aceh dengan menyewa taksi yang saat itu tarifnya Rp. 70. 000, 00. Tarif taksi dari Bandara ini sangat transparan, jadi jangan khawatir kita akan ditipu oleh supir taksi atau calo karena di papan pengumuman sudah tercantum tarif berdasarkan tujuan kita.
Sesampainya di Kota Banda Aceh, tadinya saya hendak langsung menyeberang dengan kapal cepat ke Pulau Weh. Setelah saya menyempatkan diri beribadah di Masjid Baiturrahman, saya bertemu Pak Hasballah, supir becak motor yang biasa mangkal di depan masjid. Dari beliau saya diantar keliling Kota Banda Aceh dari Museum Tsunami, Kapal PLTD Apung hingga rumah Lampulo. Selama perjalanan, saya tidak menyangka dan saya juga tidak berani bertanya pada Pak Hasballah tentang tsunami. Namun, beliau menceritakan anaknya yang menjadi korban tsunami 2004. Beliau juga termasuk salah satu korban selamat. Bagi Pak Hasballah tsunami merupakan �hadiah� pembelajaran kesabaran dari Tuhan untuk lebih memahami dan membantu orang lain apalagi saat banyak bantuan asing datang. Sebuah pemahaman yang menurut saya membutuhkah ilmu keikhlasan sangat tinggi disaat mayoritas muslim akan menyalahkan bahwa bencana merupakan hukuman Tuhan bagi muslim yang tidak beriman.
Setelah seharian saya keliling kota, saya pun menyeberang dengan kapal cepat ke Pelabuhan Ule Lhuee. Dengan Rp. 21. 000, 00 kita dapat menyeberang ke Pulau Weh dengan waktu tempuh 90 menit. Disana juga terdapat kapal cepat dengan tariff Rp. 85. 000, 00 per orang yang mampu mencapai Pulau Weh dalam waktu 45 menit saja. Kapal penyeberangan tersedia setiap pukul 08. 00 dan 16. 00. Tak lama, kapal bersauh di Pelabuhan Sabang. Jelang petang, saya bertemu beberapa pejalan lain yang juga ingin menuju Iboih, salah satu titik snorkeling paling indah di Pulau Weh. Ternyata mereka ingin berburu sunset dulu di KM. 0, sebuah monumen di pulau terluar Indonesia yang terletak di titik barat laut nusantara. Saya pun bergabung dengan mobil yang mereka sewa. Tarif sewa satu mobil beserta supir untuk mengantar ke Iboih dari Sabang adalah sebesar Rp. 400. 000, 00, kami berdelapan, sehingga per orangnya cukup membayar Rp. 50. 000, 00. Kami sampai di Monumen KM. 0 tepat pada petang hari dan berhasil menangkap pemandangan matahari tenggelam di KM. 0 yang luar biasa. Dari situ kita juga bisa mendapatkan sertifikat kunjungan KM. 0 dari Dinas Pariwisata.
Malamnya, setelah kami makan malam di sebuah sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) di Sabang, kami menginap di Fina Bungalow di Iboih. Oiya, jangan lewatkan sate gurita, kuliner yang sangat lezat dari Sabang. Fina Bungalow cukup bersih, tarif per malamnya Rp. 400. 000, 00. Pemiliknya juga menyewakan mobil dan sangat ramah. Dari depan Vila ini kita dapat langsung melihat pemandangan pantai lepas yang indah dan bening. Selain itu kita juga dapat berenang di pantai yang nyaris tidak ada gelombang lautnya karena letaknya di Teluk. Karang dan ikan-ikan disana juga cukup beragam. Besoknya, kami menyeberang ke Rubiah untuk mendapatkan pemandangan bawah laut yang lebih indah. Setelah dari Rubiah, kami sewa mobil dan jalan ke Pantai Pasir Putih dan Pantai Gappang. Oiya, bagi teman-teman yang snorkeling, hindari ya pegang-pegang terumbu karang, karena akan mengancam ketahanannya, sayangnya banyak pemandu yang belum memahaminya. Waktu itu kami minta foto bawah air, ternyata pengambilannya pada seorang kawan susah sehingga pemandu menghimbau untuk pegang karang, yaaaah... pada waktu foto terlihat, telat saya telat ngasih tahunya.
Malam berikutnya, saya sengaja berpindah penginapan di Freddy Resort, konon, sunrise di pantai dekat resort ini, Pantai Sumur Tiga luar biasa. Resort ini milik seorang warga Perancis yang dikelola bersama warga lokal. Pemiliknya cukup ramah dan membaur dengan para pengunjung. Setelah saya buktikan, saya angkat jempol empat untuk pemandangan matahari terbit dan ketenangan di resort ini ;). Lepas menikmati sunrise, saya pun bersiap-siap kembali ke Bandung. Begitulah perjalanan singkat saya ke Serambi Mekah yang membekas. Jalan-jalan sendirian kali ini membawa makna baru dalam diri saya. Dari situ saya bertemu orang-orang baru yang sangat luar biasa yang semakin menyadarkan saya bahwa dunia ini sebenarnya dipenuhi oleh orang-orang yang senang saling membantu. Sampai jumpa Banda Aceh, Sabang, Iboih dan Rubiah, suatu hari saya akan kembali!








