Ads 468x60px

Pages

Jumat, 21 Februari 2014

Dua Pekan Menyapa Rupa-Rupa Eropa



Setelah aplikasi visa saya diterima, saya pun merencanakan perjalanan saya. Dalam banyak hal, saya termasuk orang yang terorganisir dan terencana dengan baik. Tahun lalu saya ke Singapura, Hong Kong dan Makau pun saya rencanakan sendiri dengan sangat mendetail dari pesawat, hostel , transport dalam kota hingga jadwal perjam disana. Walaupun saya males ikut agen tur juga, banyak yang bilang saya pejalan sombong, biarin! Daripada dibatasi dan tidak bisa menikmati hal-hal yang tidak konvensional. Meski sendiri, saya harus bikin rencana. Apalagi trip awal tahun ini, sendirian tanpa rencana tentu akan buat saya jadi panik setengah mati. Padahal... pada akhirnya rencana saya malah ga jalan sama sekali, hahaha!

Saya punya banyak teman pejalan yang saya kenal di beberapa komunitas online seperti Backpacker Dunia dan Couchsurfing (CS). Pada waktu saya share rencana perjalanan saya mereka kaget karena saking detailnya. Celetukan yang paling sering saya dengar dari mereka adalah �Buat saya, riset mendetail ga penting, nikmati aja perjalanannya, menemukan hal-hal yang tidak terduga, santai, bukankah itu yang paling penting dari sebuah perjalanan?� Bener juga! Tapi dasar saya panikan, takut kenapa-kenapa, saya tetap bikin ittinerary, hehehe...

Awalnya, rute saya adalah Milan-Zurich-Dusseldorf-Liech-Milan. Untuk Zurich-Dusseldorf-Liech akan saya habiskan dalam waktu satu minggu. Mungkin tidak akan mendetail dan akan capek sekali, tapi waktu saya terbatas, jadilah saya putuskan trip icip-icip ini. Rute itu sempat berubah-ubah juga tadinya saya mau ke Frankfurt dan Berlin.

Di Zurich, Barbara, teman yang saya kenal dari CS bisa menampung saya barang semalam, di Dusseldorf dan Liech saya berencana nginap di hostel (pesan di hostelbookers.com atau hostelworld.com) tapi ada teman di couchsurfing juga yang mau temani sightseeing. Kalau di Milan, ada kakak, hehehe... Saya pun mulai unduh-unduh peta kota dan peta subway kota-kota itu, juga pesan-pesan tiket online kereta di trenitalia.com dan raileurope.com. Setelah browsing-browsing ternyata tiket pesawat di ke kota-kota lain yang lebih jauh malah lebih murah daripada kereta, seperti rute Milan-Amsterdam, Milan-Paris, Milan-Berlin, bahkan Milan-Oslo. Bahkan di skyscanner tertera waktu itu rute Milan-Paris PP hanya 60-80 USD saja dengan maskapai Easy Jet. Kata kakak ipar saya, di Paris cukup dua hari, kalau mau lebih cepat bisa naik bus hop on hop off, sama seperti bus hippo di Singapura yang bisa bawa kita sight seeing keliling Paris. Banyak kota-kota di Eropa yang menyediakan bus ini yang start di stasiun central. Biasanya tur mulai 90 menit-2 jam.

Tiga hari sebelum saya berangkat ke Eropa, Jreng! Jreng!! Datanglah kabar bahwa kakak saya di Italia dapat tugas kantor ke Vietnam di minggu kedua trip saya. Jadi kalau saya pergi di minggu pertama jelas saya ga bakal ketemu kakak saya padahal kami enam bulan ga ngobrol banyak dan ga ketemu. Jadilah saya batalkan semua ittinerary karena teman-teman CS juga ga pada bisa pada minggu kedua. Pemesanan tiket kereta di trenitalia dan raileurope bisa dibatalkan secara online dan mereka akan me-re-credit ke kartu kredit kita. Baiklah, moral story; terkadang kita terlalu congkak terhadap semesta dengan membuat rencana-rencana yang sangat presisi dan berharap semua harus berjalan sesuai rencana, ga bisa enggak, padahal kalau kita percaya semesta, hal yang lebih random bahkan indah bisa terjadi. Tsaaah! Klise? Mungkin, tapi ini terjadi.

Tiket PP Jakarta-Milan saya dapat dengan harga 900 USD dengan maskapai Etihad. Lebih mahal dari pada saat saya booking tiket pertama karena saya pesan seminggu sebelum saya berangkat. Jangan lupa kalau taruh bagasi kabin, jangan bawa cairan lebih dari 50 ml. Perjalanan Jakarta-Abu Dhabi ditempuh dalam waktu sekitar delapan jam tiga puluh menit. Kebetulan oh kebetulan saya dapat tempat duduk di tengah di sebelah Bapak-Bapak Italia yang sangat rese, kesenggol pramugari protes, makanan ga enak protes, dikit-dikit ngeluh dan marah-marah. Pramugarinya Etihad waktu itu malah marah-marah balik dan bilang maaf pun enggak.  

Hmmm... Beberapa flight attendants Etihad yang saya temui  termasuk keliatan jutek dan rasis pada beberapa orang. Ini pertama kalinya saya melihat pelayanan hospitality yang sepayah itu. Perasaan ini juga ga termasuk low cost-low cost amat. Pelayanan Air Asia, Tiger, Garuda bahkan Lion aja ga sampai segitunya. Harus juga ya membedakan perlakukan antara TKI dan bule di kelas yang sama? Buat saya, ini aneh banget karena bisnis hospitality kok pelayanannya gitu ya, level internasional lagi masak kalah sama pelayanan Pak Man, angkringan 24 jam di Solo dimana konsumen -ga peduli yang berpenampilan parlente atau tidak- benar-benar di-uwong-ke alias dimanusiakan-.  Jadi kesian sama backpacker yang bertampang TKI kayak saya, hahahaha. Alhamdulillah kebetean saya ga berlangsung lama karena saya tertidur pulas di pesawat dan transit di Abu Dhabi hanya satu setengah jam setelah saya mendarat.  

Abu Dhabi-Milan ditempuh dalam waktu tujuh jam. Total perjalanan 17 jam plus transitnya. Proses di imigrasi kebetulan lancar hanya antriannya lumayan panjang, hampir sejam saya ngantri bareng banyak Filipino.

Milan

Selesai proses imigrasi saya buka-buka tas untuk ngambil jaket. Boots? Kayaknya ga usah lah ya, ga dingin-dingin banget. Waktu itu saya pakai sepatu sendal. Setelah saya keluar bandara ternyata.. Brrrrr! Suhu satu derajat c saja pemirsa, saya pun masuk bandara lagi dan ganti boots. Jaket yang sudah saya pakai pun kayaknya kurang tebal. :D

Saya mendarat di bandara Malpensa. Jadi di Milan ini ada tiga bandara; Bergamo, Linate dan Malpensa. Yang terakhir itu seringnya dipakai buat transit dan lalu lalang internasional. Lokasi Malpensa dengan pusat kota Milan lumayan jauh. Sekitar 45-60 menit ditempuh dengan shuttle bus dan 30 menit dengan kereta cepat. Shuttle bus dari Malpensa ke Milano Centrale (stasiun metro subway, bus, taksi, trem dan kereta api pusat Milan) bisa pesan online dulu di http://ticketonline.malpensashuttle.it/.  Bus ini ada setiap 15 menit. Ga usah pesan online beli on board bisa dan harganya sama, sekali jalan 10 euro dan PP/ Andata e Ritorno 16 euro. Kalau pesan online dapat bukti bookingnya dan ditukar dengan karcis PP waktu di haltenya yang ada di pintu keluar/ exit/ uscita 4 terminal mana aja. Di luar pasti ada keneknya teriak-teriak �To Milano Centrale!! Haloo! Milano Centrale!!� kayak kenek-kenek disini aja.



Sampai di Milano Centrale, saya dijemput kakak saya, kami naik Metro Subway line M3 dengan tujuan akhir San Donato. Beli tiket metro bisa di kios-kios yang jual koran, makanan dan minuman ringan di setiap stasiun metro dan kios-kios Tabachi yang ada logo terbentuk huruf T di luar kiosnya,  bilang saja tujuan kita kemana atau tiket one day-6 days pass, kalo  kita beli di Milano Centrale sih kemungkinan besar bisa Bahasa Inggris, hehehe. Kita juga bisa beli tiket di mesin tiket otomatis/ biglietto veloce.  San Donato ini termasuk Milan coret kalo kata penduduk lokal, maka kalau dari pemberhentian San Donato dan kita perlu naik bis lagi ke kecamatan-kecamatan yang lain ini harganya berbeda sedikit lebih mahal. Misalnya, untuk one day pass ticket metro dalam kota dihargai 4, 5 Euro dan one trip seharga 1, 5 euro ; sedangkan kalau kita perlu naik bis lagi dari San Donato, kita harus beli tiket yang harganya 5, 95 Euro atau one trip seharga 1, 95 euro.

Cerita tersendiri waktu saya beli tiket dengan mesin tiket, disekitarnya ada beberapa wanita pakai rok dan berkerudung, mereka ini semacam gipsi di Milan. Beberapa dari mereka ga punya rumah, mereka ada di sekitar mesin tiket, mengerumuni kita dan menawarkan bantuan. Kalau sudah begini jangan kelihatan kita ga tau apa-apa dan jangan panik. Kalau kita panik mereka akan semakin memberondong kita dengan pertanyaan-pertanyaan, kalau kita minta dibantu mereka bakal minta duit tambahan, masih mending bisa saja mereka copet juga. Anggap aja mereka ga ada. Ada beberapa panduan bahasa di mesin tiketnya yakni Bahasa Italia, Bahasa Inggris, Bahasa Prancis dan Bahasa Jerman. Jadi kita tinggal pencet-pencet berdasarkan tujuan kita seperti ngambil uang di atm, setelah pilih tujuan kita tinggal masukan uang koin/ kertas yang kita punya, jangan khawatir mesin ga bisa baca uang kita atau ga ada kembalian, pokoknya ikuti petunjuknya.


Seharian istirahat di San Donato cukup bikin saya fresh lagi walaupun saya sempat mikir agak lama tentang jam berapa waktu saya bangun dan dimana, hehehe... Efek jet lag. Saya kebangun jam 12 malam yang tadinya saya pikir masih jam 6 sore, ah perbedaan waktu tidur lagi. Selanjutnya, saya jalan-jalan sendiri karena kakak saya ternyata ga bisa ambil cuti.



Agenda hari itu adalah jalan ke Duomo, gereja katedral terbesar kelima sedunia ini dibangun pada abad kelima masehi. Dari San Donato naik subway metro kuning alias jalur M3, turun di stasiun Duomo. Perjalanan ditempuh sekitar 10 menit. Di stasiun metro Duomo ini kita juga bisa transit ke jalur metro subway M1 atau jalur merah.




Duomo termasuk dalam jajaran bangunan kristen tertua di Eropa juga. Di dalam gereja terdapat kapel-kapel tempat berdoa, patung-patung dari zaman Gothic, relief gereja, dan mumi beberapa kardinal yang telah meninggal. Jangan lupa kalau ingin berfoto di Duomo, kita harus bayar 1 euro dulu untuk dapat gelang tanda izin foto dan kita harus memakainya selama di dalam Duomo. Gelang ini bisa didapatkan di dekat pintu masuk Duomo. Kita bisa menaiki tangga ke atas atap Duomo atau dengan lift. Biayanya dengan lift lebih mahal yakni 12 euro, tapi saya pilih jalan turunnya biar ga begitu terengah, hehehe tapi tinggi Duomo menurut saya ga seberapa dibanding tinggi patung Budha di Ngong Ping, Hong Kong.








Saya keluar Gereja Duomo disambut hujan dan jadilah suasana siang itu sepi sekali. Perut pun mulai protes kelaperan. Saya makan roti dan iseng menyisakan remahnya. Walaupun gerimis, burung-burung merpati di Duomo ga sungkan-sungkan terbang ke tangan saya dan mulai menyerang remah yang saya pegang. Bicara soal makan, apa yang wajib dicicip di sekitar Duomo? Jangan lupa ke toko roti (Panzerotti) Luini di Via S Radegonda 16. Toko roti ini banyak direkomendasikan di trip advisor dan setelah saya coba, rasanya enak bangettt. Banyak warga lokal dan turis yang beli disitu. Harganya berkisar 2-10 Euro. Satu roti aja sudah kenyang banget. Tapi kita harus sabar ngantri karna Luini satu-satunya ya hanya di situ.


Hmmm kemana lagi ya? Di setiap tempat wisata pasti ada mitos kalau kita pergi ke suatu tempat dan melakukan hal khusus di situ, suatu hari kita akan kembali ke tempat itu. Kata kakak ipar saya, Duomo juga punya mitos itu di perempatan Via Montenapoleone, dekat butik Prada dan Louis Vuitton. Via tersebut dipenuhi bangunan yang tingginya belasan meter dengan arsitektur Gothic. Namun, semua bangunan disitu sudah berubah jadi butik-butik barang terkenal. Di tengah perempatan Via Montenapoleone ada sebuah bulatan, kalau kita menginjak bulatan tersebut dan mengitarinya tiga kali maka suatu hari kita akan kembali ke Milan, begitu mitosnya, sebelum saya iseng mencoba, banyak turis lain yang melakukan keanehan tersebut, saya pun iseng mencoba, dan beberapa turis melihat saya dengan sangat aneh hahaha. Ketemu satu turis Korea dan bertanya saya lagi ngapain, saya jelaskan trus dia ngikutin. Geli saya melihatnya.

Buat yang mau beli oleh-oleh. Di Italia ini termasuk murah kalau dibandingkan dengan negara Uni Eropa lainnya. Satu gantungan kunci pasarannya kalau dijual di depan Duomo sekitar 2,5-3 Euro. Bagi saya masih kemahalan juga, hahaha. Setelah muter-muter, saya nemu toko suvenir  di dekat Via Turino. Agak tersembunyi tempatnya tapi harganya murah banget. Suvenirnya pun lebih lengkap koleksinya dari gantungan kunci, magnet, taplak meja, kaos, celemek masak, sampe lukisan-lukisan. Di sini bisa dapat 1,5 euro untuk 1 gantungan kunci atau magnet kulkas. Beli 10 pun masih bonus 1, hehe...



Dari Duomo bisa jalan dengan Castello Sforzesco, cukup telusuri saja Via Dante dan jalan lurus maka kita akan langsung ketemu Kastil Scforza. kastil yang juga benteng kerajaan Italia yang dibangun sejak abad 14 ini dulu nya kastil terbesar di Eropa di abad 17. Saya ga heran sih kenapa ini dulu masuk kastil terbesar karena mengelilinginya ga cukup satu hari. Di dalam kastil ada sekitar 6 museum; Museum Musik Italia, Museum Seni Kontemporer, Museum Seni Kuno, Museum Mesir, Museum Arkeologi Milan, Museum Seni Terapan, dan  Museum Barang Kayu Antik.



Saya pun lapar lagi. Kapan sih saya ga gampang lapar? Hahaha! Kuliner apa lagi ya yang wajib dicoba? Wajib wajib banget nyobain Pizza di Pizzeria Spontini. Letaknya agak jauh dari Gereja Duomo, harus naik trem dulu. Alamatnya di Corso Buenos Aires, 60. Boleh dibilang hampir semua Pizzeria di Italia bakarnya pake pembakar tradisional. Pizzeria yang dibuka pada tahun 50-an ini ga buka cabang juga dan hanya jual satu menu; margarita pizza!! Meski begitu, pizzeria ini tetep rame-rame aja soalnya dasar orang Italia memang tergila-gila dengan tomat dan jenis pizza satu ini jadi ya... tetep harus ngantri :p Eh pelayannya ganteng-ganteng dan tegap-tegap loh, haha!






Pulang ke San Donato, di dalam trem saya ketemu warga lokal, namanya Frederico, kami pun ngobrol  di dalam trem.

�How do you think about Milano?�

�This city is beautiful. As an Indonesian first time going to an Europe city, I see everything is scheduled here, clean, tasty food, they respect pedestrians, no crowded traffic, well developed public transportation system, lovely weather and beautiful people, we got soap opera actors in Indonesia look like western who youngters adore, I bet when they come to Italy they would be invisible. Aand oh you won�t believe , I spent minimum 4 hours a day on road during my real life in Indonesia, hahaha!�

�Haha! Well then, seem you gave too low expectation about Milano because you know what? Compare to other Europe countries, timing in Italy is one of the worst, low payment though price is increasing during this year, as you know we got crysis.�

�Eh? Is it?�

�Yes, I see German, French they said Ok to Italy for holidays because everything is much cheaper here, but to stay dan work here? They would say; No!  Anyway where are you going after Italy? You should visit Leonard�s Last Supper Museum before you leave Milano, but you have to book online first and no more than 15 minutes there.�

�Ah, how�s the museum in your view? Actually, I have no fixed plan, just yet. Maybe Switzerland the day after tomorrow?�

�I am Italiano and I never been to the museum, no idea but we proud of it, hahahaha! Anyway you are going to Switzerland? Come ooon... Italy has many places that more beautiful than Switzerland. Better weather as well. What will you do there? Switzerland? Come onn...� Frederico pun ngomong dengan nada skeptis.

�To see my first snow, hehe, well I just look for countries nearby Italy and just come, visit and enjoy the atmosphere. :D�

Frederico pun masih melontarkan komen-komen skeptis soal Swiss. Tebakan saya sih dia insecure sebagai orang Italia, kalau saya ke Swiss pasti akan njomplang keadaannya. Hehe... Kami pun berpisah di stasiun subway karena dia naik trem jalur M1, sedangkan saya M3. Arrivederci Frederico!

Sampe San Donato, saya makan bareng sama kakak ipar dan diajakin makan di Sotosopra, katanya sih ini Pizzeria paling oke di San Donato, pesen pizza dengan topping salmon dan basil, mayan enaaak sih dan porsinya gede banget. Jenis pizza di Sotosopra ini termasuk jenis pizza yang tipis dibandingkan dengan pizza di Spontini. Kalo rasa sih masih enak yang di Spontini kemana-mana.


Venezia

Puas menjelajah Milan, saya nanya ke kakak ipar saya enaknya kemana lagi yang bisa sehari pulang. Saya bingung karena ga punya ittinerary. Kakak ipar merekomendasi Venezia, Verona, Turin dan Lugano di Swiss. Kalo punya waktu lebih harusnya ke Roma (wajib!), Firenze dan Cinque Terre. Trus btw  enaknya kemananya kapan ya? Soalnya Italia sering hujan, kata kakak saya bisa beli tiket tanpa tanggal dulu dan tanpa nomor kursi. Bisa gitu? Bisa dengan kereta regionale dan kalau mau murah pilih yang kelas 2. Tiket ini akan berlaku dari 2 hingga 3 bulan mendatang. Bisa beli online di trenitalia.com, tapi terkadang kereta regionale di jam-jam tertentu ga bisa dibeli online, dan harus beli di Bigglieteria stasiun Milano Centrale, Rogoredo (line M3 subway) atau di Garibaldi (Line M2 subway). Di tiga stasiun besar itu biasanya keretanya mangkal (buset mangkal kayak apaan aja). Harga tiket ke 4 kota itu dari Milan PP mulai dari 22 euro-35 euro.


Karena cuaca besoknya ga hujan, saya memutuskan pergi ke Venezia. Tiga jam dari Milan, berangkatnya harus pagi-pagi. Jadwal bisa dilihat di web treintalia. Juga di pintu-pintu masuk peron stasiun.

Banyak orang bilang, Venezia adalah salah satu titik paling romantis di Italia. Tergantung kesananya sama siapa sih? Haha! Kalau sendirian bisa aja jadi random. Kalau naik dari Centrale, Garibaldi atau Rogoredo,  sebelum naik ke kereta jangan lupa validasi tiketnya dulu karena kalau lupa bisa kena denda yang lumayan. Mesin validasi ada di setiap peron kereta.




Yang wajib dilakukan di Venezia ini adalah mengunjungi Piazza San Marco, Gereja Basilica St. Mark, naik water bus dan tentunya jalan kaki mengelilingi gang-gang sempit dengan bangunan tua di tengah kota. Naik gondola ga wajib sih apalagi kalo sendiri, mahal cing! 150 euro. Venezia ini termasuk kecil kotanya tapi banyak jalan tikus kayak labirin. Bawa peta merupakan keharusan kalau kita ga punya banyak waktu buat menyesatkan diri, hehe. 

Saya melihat perairan yang sangat luas dan bangunan-bangunan tua Venezia begitu kereta menyeberangi laguna Venezia. Begitu sampai di stasiun saya memutuskan untuk jalan kaki menuju Piazza San Marco. Setelah dua jam saya ga sampe-sampe juga padahal harusnya sekitar sejaman sudah sampai. Pertanda tersesat ini, tapi menyenangkan jalan-jalan di bangunan dan gang-gang labirinnya, damai dan sepi banget soalnya dan kayaknya enak menghabiskan masa tua disini. Beruntung saya ketemu Jembatan Rialto, saya pun naik water bus dari situ menuju Piazza San Marco dan saya beli tiket 12 jam naik-turun water bus yang harganya ga sampai 15 euro, saya lupa pastinya.  Di dalem water bus ketemu orang berwajah Asia Selatan gitu dan tiba-tiba ngomong random ke saya; �Bla... Bla... Bla... (pakai bahasa yang sepertinya Bangla)� saya pun menatap aneh. Lalu dia nanya; �Are you Bangladeshi?� �No, I am Indonesian.� Lalu orang yang duduk di sebelah saya ini diam. Mungkin dia nyari sesama Bangladeshi lalu jadi keki begitu tau ternyata saya ga ngerti dia ngomong apa.


Sampai di San Marco saya jalan-jalan keliling Piazza dan masuk ke  Gereja Basilica dan naik keatas, dari atas kita bisa melihat seluruh Kota Venezia. Menuju ke stasiun saya naik water bus lagi, sebenarnya saya pingin jalan tapi takut kemaleman. Ternyata sampai stasiun keretanya masih 1, 5 jam lagi. Jadilah saya memutuskan sightseeing di sekitar stasiun. Baru berapa ratus meter keluar dari stasiun, saya minum, duduk dan lihat peta buat memastikan saya ga tersesat lagi lalu tiba-tiba ada yang menyapa saya. Orang ini kapan datangnya ya kok tiba-tiba ada di sebelah saya. Mas-mas ini tinggi (sekitar 175-180), mukanya persegi, rambut belah pinggir, garis rahangnya lebar dan tegas, matanya lebar, alisnya tebal, hidungnya mancung dan kulitnya coklat. Sepertinya dia berusia 30-an. Oke, saya memang berlebihan menangkap detail orang ini, hih!


�Scuzi, parla Italiano? Or Inglese?�
�Si, I speak English, parlo un po� di Italiano, I mean molto poco,� Jawab saya dengan bahasa Italia dasar campur Inggris yang acak-acakan.
�Looking for something?�
�Oh, hi, yes, I mean no, I am just making sure I don�t get lost,� Agak kaget juga saya. Sekaligus grogi, habisnya manis orangnya, hahaha!
�Solo traveler?�
�Yes, I am traveling alone,� Duh salah deh kayaknya, bakalan berpotensi dikerjain nih saya.
�I am solo traveler as well. But I am working and studying here. Venice is very small, don�t worry, even if you get lost, you won�t regret it, my name is Rathore, Where are you coming from? You look like our people.� (Sepertinya sih Rathore, saya ga tau gimana ngejanya, saya bahkan lupa nama pasti si cowok ini, hihihi)

�Call me Tiwi, our people? I am not sure, you look like South Asian guy, I am Indonesian. Are you selling  something?� Kami jabat tangan. Sebenarnya saya agak khawatir juga sih, lagi-lagi Asia Selatan, jangan-jangan dia mau promosi sesuatu atau menawarkan gelang persahabatan kayak di Duomo.

�Haha! No, don�t worry. I am just spending my free time here and I ll be back to work 45 minutes from now. I am from Darjeeling, India. I know you are solo traveler, seem you are looking for something in the map, I have been living here for a year and I like meeting new people, help or talk. If you feel you are not safe you can leave me now or if you are fine having a random chat with a stranger, hot espresso  for two? How?� Dia senyum.

�Sure,�

Dari obrolan sore itu, saya tau kalau si Rathore ini kerja di hotel, part time jadi resepsionis disela waktunya kuliah  master ekonomi di universitas entahlah saya juga lupa nanya (bodoh!). Katanya, kalau ingin dapat kerjaan part time dengan bayaran yang agak tinggi di Italia, kita harus bisa banyak bahasa. Dia gampang banget dapet kerjaan part time karena dia bisa lima bahasa; Urdu, Hindi, Mandarin, Inggris dan Italia.  Kami pun ngobrol-ngobrol tentang tempat-tempat yang kami kunjungi, do�s, don�t�s. Si Rathore ini pernah keliling Mesir, ASEAN dan China. Suatu hari dia ingin balik ke Bali. Saya bilang suatu saat dia pasti akan kembali kesana seperti si perjalanan luar biasa si anak gembala menemukan tujuannya pada novel The Alchemist. Begitu saya menyebut The Alchemist, matanya langsung berbinar. Dari situ saya tahu bahwa ternyata kami sama-sama ngefans karya lawas Paulo Coelho yang berjudul The Alchemist. Ini benar-benar sebuah kebetulan yang menyenangkan.


�That�s cliche, most people I met said The Alchemist is stupid. But I think there is a big power controls our universe that run like our thougts, we are connected like a spider web, interdependence signs, each of us, everything happened in my life is always for a reason, and it happened exactly like i dreamed in my past. At the same time, you cannot be brave to chase your dream all by yourself. Everybody's got to have a Charlotte. You know, Charlotte's Web, American bedtime story. On the plot, Charlotte is kind of The Alchemist. Amazing. Finally I talk to someone who adores The Alchemist as well, hahaha!� Ya ampuuun, yes, and you too Mas, you are even more adorable than the novel, hahaha!  Kami kemudian ketawa-ketawa bahas kebiasaan orang India yang ga jauh beda dengan orang Indonesia yang selalu bawa bumbu-bumbu dan heboh sendiri kalo lagi rame-rame di negeri orang. Kami menganggapnya norak tapi kami sering melakukannya waktu jalan rame-rame.


Ga kerasa kereta saya 20 menit lagi. Kami pun berpisah. Dia bilang dia pingin ketemu saya lagi dan jalan bareng pas hari liburnya dia, hari Selasa, tapi dia ga mau tukar kontak.

�Phone number is not important for me, but I need your promise to meet me in Verona or somewhere else. Verona is nice anyway, its a city of Juliet if you like that Shakespeare romance. I ll show you a place there people don�t know, even locals, anyway  I am wondering  whether universe conspires for us nor not.� Katanya sambil senyum.

Saya pun mengiyakan dan menjanjikannya bertemu di Tourist Informationdi Stasiun Verona pada hari Selasa minggu depannya Jam 10 pagi. Ciao hai mas-mas random dan menarik!

Sampe Milan saya cerita pengalaman itu ke kakak saya dan dibilangin; �Tuhh kan, asyik kan kalau jalan sendirian,aku dulu jalan sendiri pernah dapet travel mate cewek yang asyik sampe dulu aku pernah dilamar kakek-kakek, coba kamu jalan-jalan sama kita dan bawa anak kecil pake stroler ga bakal ada kejadian kayak gitu, udah invisible dah, hahaha!�

Turin
Juventini mana Juventini? Hi3. Temen-temen saya yang ngaku Juventini banyak yang iri waktu saya ceki-ceki di Turin. Dari tengah kota Turin, di kejauhan sana saya bisa melihat bukit-bukit bersalju dan rumah-rumah penduduk di atasnya. Ternyata bukit-bukit itu adalah perbukitan barat dan utara pegunungan Alpen. Dari Milan ke Turin sekitar sejam naik kereta. Di Turin ini banyak museumnya, menurut rekomendasi trip advisor, museum-museum di Turin ini juara dalam pengelolaannya. Turin merupakan kota museum, jadi jangan kesana pada hari Senin, karena semua museum tutup. Waktu saya kesana, Turin terlihat sepi banget karena mungkin sedang low season, musim hujan dan kota industri. Turin ini bisa dijelajahi dengan berjalan kaki lurus dari stasiun pusat Turin. Objek wisata dan museumnya berdekatan. Museum Arkeologi dan Museum Mesir ada di tengah-tengah kotanya dan segaris lurus dengan stasiun pusat. Saya jatuh cinta dengan Turin pada kunjungan pertama. Kenapa? Walaupun saya sempat tersesat di sini �lagi-lagi-, saya jadi tau, Turin ini ditata untuk anak muda sekaligus surga bagi pedestrian.





Keluar  Stasiun Torino Porta Nuova, saya ketemu taman pertama saya di Turin, Taman Giordino Sambuy. Keluar-keluar langsung hijau pemandangannya, bahkan di kota industri. Waaaah senangnya. Dari Taman Giordino Sambuy, sudah ada panah arah ke Egyptian Museum, saya mengikuti panah itu dan melewati Piazza San Carlo, perempatan pertama yang saya lalui di Turin. Di piazza ini seperti kebanyakan piazza yang pernah saya temui di Italia, ada burung-burung merpati, beberapa bangku di sudut-sudutnya, patung kuda besar dan pancuran air minum. Cukup jarang mobil, hanya beberapa sepeda melintas dan pejalan kaki yang berjalan tergesa.

Museum apa saja yang ada di Turin selain Museum Arkeologi dan Museum Mesir? Ada Palazzo Reale (istana kerajaan), Madama Palace, Museum Film, Museum Unifikasi Italia, dan Castello del Valentino. Situs-situs tersebut berdekatan, atau kalau kita bingung, ada bus hop on hop  off yang terminalnya ada di Piazza Castello yang bisa kita capai dengan jalan kaki dari Porta Nuova juga. Bus ini akan mengantar kita melihat semua objek wisata di Turin. Tiket bisa dibeli on board tapi saya ga tahu berapa harganya karena saya milih jalan kaki, hehehe...  Jangan lupa bawa peta. Peta bisa diambil di stasiun Torino Porta Nuova kok.

Setelah mengunjungi semua situs, saya menuju ke stasiun dengan jalan kaki. Dari situ setiap perempatan saya selalu ketemu piazza yang sangat luas, jalan buat pedestrian juga lumayan lebar-lebar, lebih lebar kalau dibandingkan Milan. Kota ini benar-benar berinvestasi banyak pada ruang publik dan taman. Banyak youth center yang saya temui disana, saya juga lewat Piazza Vittorio Veneto yang ternyata banyak anak mudanya yang beraktivitas disana seperti main skate board, main musik atau sekadar duduk melingkar ngobrol-ngobrol sambil bawa-bawa majalah atau buku-buku. Sebelum saya meninggalkan Turin saya sempatkan beli kartu pos dan perangko di Tabachi untuk mengirimkannya ke para Juventini di tanah air, hehehe...

Danau Lugano, Swiss

Keberangkatan ke  Lugano ini sedikit dramatis, terkait dengan mas-mas random yang saya temui di Venezia. Hari itu hari Selasa tepat hari kami janjian. Senin malam, saya berencana berangkat dari Milan ke Verona jam 07. 30. Tapi ternyata saya kesiangan dan kamar mandinya dipakai kakak yang mau ke Vietnam. Aaaak, baiklah pasrah saja. Jam 08. 00 saya siap dan berangkat ke Stasiun Centrale tapi ternyata bus kota dari San Donato lamaaaa banget. Jadilah saya terlambat dua menit dan ketinggalan kereta ke Verona di Centrale. Bye mas-mas adorable, mungkin semesta tidak berkehendak kita ketemu lagi.

Saya pun ditelepon kakak ipar saya.

�Gimana kok bisa ketinggalan?�

�Iya tadi busnya lama banget,�

�Yaaah, ni aku liatin jadwal selanjutnya ga ada juga, ya udah kamu bawa paspor dan tiket ke Lugano kan? Ke Lugano aja, keretanya 20 menit lagi, lari wi kejar metro subway ke Garibaldi! Cepetann!�

Saya pun lari-lari ke subway, naik turun tangga akhirnya ketemu metro jalur M2 warna hijau. 2 stasiun kemudian saya sampai di Garibaldi. Duh keretanya 3 menit lagi. Saya pun lari-lari naik tangga ke atas peron kereta. Akhirnya ketemu juga keretanya. Bapak masinis sudah semprit-semprit, saya ga sempat lagi validasi tiket dan dia cuma teriak-teriak; �Come in Madam! We can validate it inside! Come! Come!�

Fiuuuh, akhirnya kekejar juga keretanya dan tiket divalidasi di dalam kereta. Begitu di dalam kereta, saya minta maaf ke kondekturnya karena ga sempat validasi di mesin validasi, sambil senyum kata dia ga papa, lalu tiket saya langsung ditandatangan dan diberi cap tanggal.

Ke Lugano dari Milan ini perlu satu kali transit di Chiasso. Di Chiasso ga perlu validasi tiket lagi dan kita tinggal lihat di papan elektronik kereta ke Lugano di peron berapa. Chiasso masih masuk wilayah Italia, sedangkan Lugano sudah masuk wilayah Swiss. Begitu naik kereta ke Lugano, perbandingannya 180 derajat daripada kereta yang dari Milan ke Chiasso, mungkin kereta Swiss memang lebih bagus kali ya, hehehe.



Dari Milan ke Lugano ditempuh dalam tiga jam. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa dan ga pernah berhenti berwow-wow ria karena pemandangannya keren banget, danau-danau yang dikelilingi pegunungan bersalju dan rumah penduduk.

Keluar stasiun Lugano, saya celingak-celinguk kayak orang hilang. Cari-cari tourist information ga ada di stasiun. Saya pun menyebrang stasiun dan menuruni jalan menuju danau yang sudah terlihat dari atas. Ternyata jalan itu menuju centro atau pusat kotanya. Disini saya banyak mendengar orang-orang berbicara bahasa Italia dan Jerman dengan aksen Swiss. Ealah lha ternyata tourist information ada di centronya, sekira jalan 30 menit dari stasiun di atas. Di centro ini banyak toko-toko barang bermerk, toko jam, toko makanan, cafe, jalannya lumayan naik turun tapi pemandangannya bagus. Cuaca waktu itu cerah banget.  Sampai di danau saya lapar dan makan di siang dulu di pinggir danau, disitu banyak cafe, kalau cari yang agak murah dan praktis ada Mc. D.







Saya pun jalan-jalan keliling danau, trus dengan random berhenti dan menuntaskan satu buku kumpulan essay. Sejam kemudian saya pergi dan keliling centro. Dari situ saya naik keatas ke arah stasiun eh ternyata ada cable bus ke stasiun hanya dua menit dari bawah, bayarnya 1 euro udah sampe stasiun. Tapi saya ga nyesel jalan turun keliling lama dari atas. Lumayan bakar kalori. :D



Di Stasiun Lugano, ga ada mesin validasi untuk tiket ke Milan. Jadi langsung masuk kereta ke Chiasso aja. Setiap satu jam ada.

Mont Blanc, Perancis







Dari Milan ke Mont Blanc ditempuh tiga jam jalur mobil. Tolnya mahal banget. Saran mending naik kereta pesan di SBB online. Kebetulan waktu itu pas akhir pekan jadi bisa jalan bareng kakak saya, walaupun hanya dua hari. Horeeee!!  Kami nginap di Courmayeur. Keren deh tempat nginapnya, yang sayang cuman dihabiskan semalam doang, yaaah...










Dusseldorf

Masih ada sisa beberapa hari di Eropa. Kemana lagi ya? Tadinya mau ke Perancis, lumayan murah soalnya PP dapet 80 USD pakai Easy Jet. Tadinya saya memang berniat ke Dusseldorf buat apply dokumen kuliah master di sebuah universitas di Essen. Tapi telat batalin tiketnya jadi ya hangus deh. Ya udah pasrah aja. Tetiba, teman CS saya mengirimi pesan dan bertanya apakah saya sedang di Eropa? Kebetulan saya sebelumnya posting bahwa saya mau ke Eropa dan cari host. Mari sebut saja namanya Nanas. Nanas ini adalah orang Norwegia yang bekerja di Jerman, di Dusseldorf.  Kebetulan kami sering kontak online sebelumnya. Saya ga tau kalau dia sekarang sudah pindah ke Dusseldorf.  Dia bertanya, kenapa saya ga ke Dusseldorf? Katanya akomodasi disana jangan khawatir. Ya ampuun baiknya. Saya pun book tiket dengan sedikit hectic karena harganya keburu mahal. Jaga-jaga kalau misalnya dia ga bisa host, saya book hostel juga di Dusseldorf, dan download peta metro subway juga. Aman dah.

Ternyata sampai di Dusseldorf, saya dijemput Nanas, hehe.. Jadilah kami sight seeing dan sempat diantar ke kampus tempat saya daftar sekolah buat post dokumen. Sampe ditungguin wawancara segala. Jadi ga enak, hi3.

Dusseldorf ini dilewati Sungai Rhein, yang wajib dikunjungi disini apa? Rhein Tower dan Rhein Promenade. Dari atas Rhein Tower kita bisa lihat pemandangan seluruh kota Dusseldorf. Kota ini relatif lebih dingin dibandingkan Milan dan kota sekitarnya karena lokasinya di utara. Kebetulan apartemen Nanas dekat sekali dengan Dusseldorf Hbf (Stasiun central Dusseldorf) dan juga Rhein Tower.  Dari Dusseldorf International Airport Flughafen ke stasiun central Hbf cukup naik bus S11 atau S10 sekitar 15 menit. Sebenarnya ke Rhein Tower dari Hbf bisa jalan karena dekat banget.  Di Dusseldorf juga ada bus hop on hop off yang siap ngantar kita keliling kota. Terminal hop on hop off ada di Dusseldorf Hbf.

Biaya hidup di Dusseldorf ini lumayan lebih mahal kalau dibandingkan Milan. Ada beberapa hal yang membekas di saya tentang Dusseldorf. Hal pertama adalah sistem pengolahan sampah, disana setiap taman sudah ada mesin pengolah sampahnya dan warganya sangat tertib buang sampah sesuai dengan jenis dan tempatnya. Bahkan warga sangat efisien sampai-sampai mereka impor sampah dari Inggris untuk mengolahnya jadi energi. Dibandingkan dengan warga INA, saya ingat memang meningkatkan awareness warga tentang lingkungan ini yang berat. Harus mulai dari diri sendiri. Ada sih satu pengalaman yang sedikit memalukan soal kebiasaan menyampah ini. Waktu saya di ruang tunggu gate di Abu Dhabi sempat ketemu banyak saudara INA yang barusan pulang umrah dan transit di Abu Dhabi. Di setiap row sudah ada tong sampahnya tapi tetap saja sampah dimana-mana dari bungkus makanan sampe kulit jeruk. Kondisi beda saat saya transit berangkat ke Milan di Abu Dhabi, gatenya bersih dan tenang. Akhirnya, karena malu saya pun sengaja boarding belakangan dan memunguti sampah yang ada. Tetiba ada CS datang, dia bilang ga usah khawatir karena sudah biasa kalau ada rombongan umrah dari INA pasti gitu jadi mereka udah siapkan tenaga lebih. Malunya dua kali deh.



 Hal kedua, waktu itu sempat antar Nanas check up karena dia habis operasi. Kebetulan lewat klinik obgin gitu. Kata dia, di Jerman aborsi dilegalkan, safe, ga sakit dan SOP nya hanya 15 menit. Tapi ga semua klinik obgin dibolehkan praktek aborsi, disana harus ada sertifikasi pemerintah karena kliniknya harus punya sejumlah fasilitas dan tenaga ahli yang antara lain psikolog, lawyer sampe beberapa dokter spesialis. Anehnya, di Jerman justru jarang yang datang ke klinik obgin untuk aborsi dan angka aborsinya lebih kecil daripada di negara-negara yang membuat aborsi jadi ilegal.

�We think that men and women should have same reproduction rights. Women in almost all developing countries are often being criminalized because of unwanted pregnancy or got raped. This construction could lead to illegal abortion, not safe, many abortion clinic in developing countries will use this issue to do unsafe abortion or even trick these poor women. If the abortion succeed, in the end, the woman and  the poor kid would be criminalized socially like for their whole life.  At the same time it would be more irresponsible if they have unwanted pregnacy while we can safe the women�s life in time,�

Di Rhein Promenade, lebih lanjut kami banyak ngobrol soal bagaimana saya juga kadang lelah menghadapi konstruksi gender di Indonesia yang seringnya mengkriminalkan perempuannya baik secara hukum maupun secara sosial. Ternyata di Libya lebih parah, sosok lelaki yang dituakan di keluarga bahkan berhak membunuh jika anak perempuannya menikahi orang di luar sukunya. Nanas ini blasteran Libya-Norwegian, jadi dia banyak cerita soal perempuan dan kondisi perpolitikan di Libya. Obrolan yang semakin berat saya alihkan ke tempat-tempat yang pernah kami kunjungi, karena di Nanas ini juga sering pergi sendirian juga.  Hari-hari selanjutnya kami lebih sering jalan kaki dan ngobrol seharian di Dusseldorf. He is the first muslim feminist man I ever met!



Pulang ke Milan dan Jakarta
Perjalanan ke Milan dari Dusseldorf daya lewati bersama pemandangan pengunungan salju dan cuaca saat itu cerah sekali. Sampai Milan, ternyata ada Sciopero alias semacam penghentian/ pemogokan transportasi publik selama beberapa jangka waktu. Saya ga tau sebabnya apa. Yang jelas hari itu semua transportasi publik lumpuh kecuali line M1 subway metro. Yah, akhirnya kepaksa saya harus naik taksi dan ketemu supir taksi yang lumayan cerewet, tapi ganteng dan necis.

�Prego?�

�Si, parla Inglese?�

�Yes, where are you from? India?� (Ughhh India again?)

�No, I am Indonesian.�

�Ah, I went to Bali last year with my wife and 2 years old son. We were in Thailand, Bali and Australia. My brother has an Italian Restaurant in Melbourne. Balinese are very nice compare to people from Thailand. I rent a car in Bali, I drove by my self and the car got stuck on my way to Ubud, and then many Balinese arround helped me with smile and they didn�t ask for money. People in Thailand are crazy and not professional in renting car.� (Supir Taksi di negara EU yang krisis aja liburan keluarganya ke Thailand, Bali dan Aus...)

�Ah so, that�s great! And then how are Italians?�

�Haha! I am not Italian, okay, not 100%,  my dad is Italian and my mother is from Spain. They both were chef, they met in a hotel here and got married.�

�Ohkay, but the Spanish and Italian language sound almost similar, right? Maybe just like Indonesian and Malaysian.�


�No. The languages are very different and also their values. I feel I am more Spanish and I don�t really like Italians. Italians are materialistic, compare to Spanish, they respect friendship much much more than Italian. Spanish don�t put wordly things first, but Italians do.�

�Yes, but you gotta deal with that because you are Italian and you talk to Italians ever day, :D�

�Yeah, but I always miss Barcelona,�

Lebih lanjut si supir taksi ini cerita soal gimana dia ketemu istrinya �yang orang spanyol- sampe value yang akan dia tanamkan ke anaknya, cerewet banget dah pokoknya, sampe San Donato dia ga berhenti ngomong. Hihihi. Orang Italia itu kayaknya memang extrovert dah.

Jadi begitulah cerita trip icip-icip saya ke Eropa. Akhirnya saya pulang dengan tabungan menipis dan meski begitu saya ga nyesel dan saya berharap suatu hari saya akan kembali ke Eropa, harus! 

Minggu, 16 Februari 2014

Eropa? Kenapa? Saya Pergi Kemana Hati Membawa


Judul seperti di novel yang ditulis novelis Italia, S. Tamaro. Kalau saya tidak mengikuti kata hati, hidup saya tidak akan bahagia. Itu saja. Sebenarnya saya tidak pernah merencanakan ke Eropa awal 2014 ini. Kepikiran pun tidak. Saya juga tidak pernah mengira tabungan saya cukup buat kesana. Kalaupun ke Eropa, itupun bukan dalam rangka trip, tapi shortcourse atau dapat beasiswa S2. Tapi entahlah. Suatu hari, ada sesuatu dalam diri saya yang berbisik; �How about Europe?� / �Definitely No! Too expensive and traveling alone? Risky!� / Lalu berkali-kali saya kebayang-bayang Eropa terus.


Dari sejak SMA saya punya cita-cita harus pergi ke Eropa, pokoknya pergi ke Eropa, entah sekolah entah main, dan entah kapan bisa terwujud. Pada akhir 2008, iseng saya ikut EHEF, pameran pendidikan eropa dan saya dapat banyak insight tentang sistem pendidikan dan kampus-kampus di Belanda, Inggris, Prancis,  Jerman dan Italia plus satu peta Eropa segede gaban dalam bentuk kartun yang saya pajang di kamar saya sampai sekarang :-D. Dari situ saya mulai tertarik membaca buku-buku tentang negara-negara itu. Setelah melihat sistem perkuliahan dan metode knowledge sharing di beberapa negara di Eropa, saya pun berpikir, jika nanti saya dapat kesempatan untuk studi lagi, saya harus ke Belanda, Inggris atau Jerman. Italia dan Perancis bagus tapi bukan untuk bidang ilmu saya.


Sejauh ini mimpi saya masih mandeg di Letter of Acceptance universitas tanpa mendapatkan beasiswanya karena menemui kegagalan-kegagalan apply beasiswa. Kebetulan kedua beasiswa eropa yang saya apply adalah G2G alias harus ada rekomendasi profesional dan saya apply tanpa menyertakan itu, hanya rekomendasi akademis saja, jadilah gagal deh atau mungkin saya ga cukup qualified atau memang belum rejekinya. Tahun ini saya harus boost IELTS dan daftar lagi dengan rekomendasi profesional!!  Semangat!!


Baiklah, maaf pemirsa kalau saya terlalu mengeksplor mimpi saya. Hehe.. Akhirnya, ditambah kompor dari teman kantor ; �Kakakmu di Italia sudah 6 tahun tapi kamu belum pernah kesana, sementara temen kamu dari Jerman cewek 23 tahun udah berani keliling Indonesia sendirian? Wah kalo aku diposisi kamu bakal malu banget Tiw! Huahaha!� Okee, well said Mbak Kris! It provoked me a lot! Saya pun apply visa.



Awal November 2013 dalam perjalanan ke Bandung naik kereta dari Solo saya iseng-iseng browsing flight Jakarta-Milan di skyscanner android app, ternyata Emirates jatuh di sekitar 847 USD. Wah lebih murah dari bayangan saya. Saya pun menghubungi kakak saya di Italia perihal surat sponsor dan langsung diiyain. Kalau saya dapat visa, ini akan jadi trip pertama saya ke luar negeri sendirian. Gimana rasanya? Deg-degan, excited, dan nervous. Hehehe... Saya pun dapat visa dan berangkat!

Mengajukan Visa Schengen ke Kedutaan Besar Italia di Indonesia

Visa Schengen adalah visa yang diberikan agar kita diperbolehkan mengunjungi 25 negara Schengen/ Uni Eropa. Jika kita mendapatkan Visa Schengen, artinya, kita boleh mengunjungi 25 negara tersebut hingga jangka waktu tertentu sesuai visa yang diberikan.

Mengajukan aplikasi visa schengen melalui kedutaan besar Italia tidak lagi harus ke kedutaan di Jakarta langsung, melainkan melalui VFS global service, mungkin itu semacam pihak yang di-outsource untuk mengurus kelengkapan dokumen dan administrasi yang dibutuhkan untuk proses visa. Sedangkan pengambil keputusan apakah visa diterima atau tidak itu kedubesnya. Saran saya, nggak usah pake travel agent. Kalau kita ada waktu ngurus sendiri dan dokumennya lengkap kenapa harus pakai kurir? Pakai kurir atau tidak, tidak ada yang bisa menjamin visa kita diterima. Menurut saya malah lebih praktis mengurus visa sendiri karena di Kedutaan Besar Italia prosesnya cepat apabila semua syarat sudah kita siapkan dan kita sudah bikin janji online.

Dokumen yang diperlukan antara lain formulir terisi, paspor asli dan fotokopi, dua foto visa standar ICAO (35x45mm background putih, proporsi wajah 80% dari keseluruhan foto), print out asuransi perjalanan yang bisa dibeli online di web AXA atau penyedia lain (pastikan asuransinya juga cover Schengen Countries), surat keterangan masih bekerja yang menerangkan instansi, status kepegawaian, dan izin cuti dari instansi dengan jaminan tanggal berapa kita akan kembali bekerja, surat referensi bank, copy rekening tiga bulan terakhir, copy bukti booking pesawat, dan surat sponsor disertai bukti hubungan antara pemberi dan penerima sponsor. Kalau tanpa surat sponsor, kita akan diminta bukti booking hotel juga hingga tanggal kita meninggalkan Italia.

Kabarnya, mulai Juli 2014 mengurus visa schengen tidak perlu asuransi perjalanan dan Uni Eropa pun mempercepat prosesnya. Tapi menurut saya, asuransi perjalanan itu penting atau mending ga berangkat hehe... Bayangkan kalau kita tiba-tiba sakit dan kenapa-kenapa di negara orang? Biayanya mungkin lebih dari kita membayar premi asuransinya. Oiya, sebelum membeli asuransi sebaiknya dicek apa saja yang ditanggung dalam asuransi perjalanan tersebut ya dan mekanisme claimnya juga. 

Sebaiknya semua dokumen disiapkan 90 hari sebelum semua kelengkapan diajukan. Hanya saja, karena saya last minute person, semua dokumen saya ajukan tiga minggu sebelum saya berangkat hehehe. Mengurus dokumen-dokumen tersebut agak ribet juga buat saya. Kebetulan waktu itu surat referensi bank dari Bank Mandiri tempat saya nabung hanya bisa diurus di tempat rekening dibuka yakni di Solo, sementara saya ada di Bandung. Sebenarnya bisa sih diurus di Bandung cuman waktu itu jadi ribet banget sampe saya kapok sama Bank Mandiri tapi itu yang paling signifikan dalam pengajuan visa ya mau gimana lagi.

Hasil ngobrol-ngobrol dengan mantan orang imigrasi di Uni Eropa, visa schengen itu akan cepat diberikan jika kita punya kemandirian dan kecukupan finansial. Kalau ditanya-tanya petugas visanya sebenarnya mereka hanya akan memastikan kalau kita nggak akan jadi imigran gelap disana. Bahkan ketika saya disponsori kakak saya yang secara finansial mampu membiayai saya, mereka tetap minta beberapa dokumen atas nama saya pribadi: bukti saldo rekening (yang waktu itu cuman 15 juta, gosipnya harus 50 juta ya? hahaha), surat referensi bank, dan surat jaminan dari kantor kalau kita punya pekerjaan serta diberikan cuti ke Eropa selama sekian hari hingga tanggal tertentu. Kebijakan pemberian visa free atau tidak sebenarnya faktor pengaruhnya ya itu; fluktuasi dan jumlah overstayer WNI di negara tertentu.

Oke, lets get over the financial stuffs. Jadi ya untuk formulir visa dan format surat sponsor bisa didownload di web VFS. Biar aman, kakak saya melampirkan Permesso di Soggiorno (semacam KITAS Italia), surat kelayakan rumah dari pemerintah setempat, slip gaji, surat keterangan masih bekerja dari kantornya, paspor, akte kelahiran dan akte kelahiran saya sebagai bukti kalau kami memang saudara kandung. Sebenarnya dokumen-dokumen itu tidak wajib, biar aman sih. Oiya, booking flight tidak harus dibayar dulu walau tidak semua agen travel bisa. Ada yang minta DP dulu lah, jaminan lah. Biasanya agen travel yang gede bisa. Waktu itu saya minta bukti booking dari Bayu Buana Travel. Disitu kita bisa minta bukti booking pesawat PP tanpa bayar dulu sepeser pun, hanya saja, jatuh temponya waktu itu 7 hari setelah booking. Setelah tujuh hari dan kita tidak bayar maka tiket kita hangus. Intinya kan kita butuh bukti booking flight saja. Kalau dapat visa baru dipikirkan cari pesawat murah, dan saya beli di Bayu Buana lagi.

Setelah semua dokumen terkumpul, saya bikin appointment untuk pengumpulan dokumen secara online di web VFS lalu pada hari H saya apply ke VFS di Plaza ABDA, Senayan, Jakarta yang ternyata deket sekali dengan  halte transjakarta Gelora Bung Karno. Total biaya pengurusan visa dengan kurs EUR waktu itu Rp. 16. 600,- yakni sekitar Rp. 1. 100. 000, -.  Kata mbak teller di VFS yang ramah banget waktu itu, proses visa bisa lima hingga delapan hari. Namun, tiga hari kemudian saya disms bahwa visa saya sudah diapproved dan diproses. Besoknya, paspor dengan tempelan visa sudah sampai di kosan saya di Bandung dan ternyata harinya ditambah. Tadinya saya apply single entry 15 hari tapi dapetnya multiple entry 30 hari dan paspornya diantar kurir. Horeeee!!